LAPORAN ANJANGSANA GURU TAHAP 1 (06 Februari 2016)
Posted On: 29 February 2016 at 13:53:22
By Agtia dan Lita
Pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 2016 telah terlaksana anjangsana ke guru tahap 1. Sesuai dengan rencana rangkaian kegiatan reuni perak padmanaba46 (1988-1991), maka angkatan kita menyelenggarakan kegiatan anjangsana ke guru-guru dimana dalam tahap I ini kita mengunjungi ke guru dan karyawan dengan prioritas guru yang sakit terlebih dahulu. Di awal, rencana kunjungan ada 3 guru dan 1 karyawan, yaitu : Pak Hardjo (mantan Wakil kepala sekolah), Pak Tardjo (guru Olah Raga), Ibu Dinarti (Guru Fisika) dan Pak Saryanto (karyawan TU). Adapun kegiatan pra anjangsana dan anjangsana adalah sebagai berikut :
Survey ke rumah Pak Hardjo (Senin, 1 Februari 2016)
Sore pukul 16:00 Agtia dan Hari Suyuti kumpul di kantor Agtia untuk melakukan survey ke rumah Pak Hardjo di daerah Kota Gedhe. Setelah mencari dan bertanya, akhirnya kita sampai di rumah beliau. Tetapi ternyata tidak ada orang dirumah. Kita kemudian bertanya kepada tetangga, akhirnya kita mendapat infomasi bahwa Pak Hardjo gerah dan dirawat di RS Wirosaban. Berdasarkan informasi tersebut kemudian malamnya Hari Suyuti mencoba menelpon dan dapat kontak dengan puterinya yaitu Mbak Anna untuk menanyakan kondisi beliau. Berikut laporan Hari Suyuti hasil telpon dengan puterinya :
“Saya tadi sudah berhasil kontak dgn mbak Nana (putrinya pak Hardjo), katanya emang sekrg pak Hardjo msh opname di RSU Wirosaban. Malah barusan masuk ICU, krn sesak nafas & tensinya drop.
Kata mbak Nana, kalo emang kita mau sowan pak Hardjo, ntar jelang sowan diminta nelpon mb Nana dulu, utk kabar sikonnya spt apa, memungkinkan atau tidak... begitu.
Jadi, sementara kalo boleh disimpulken, kemungkinan kita bisa sowan ke pak Hardjo besok Sabtu itu 50-50...”
Di putuskan kunjungan ke beliau menunggu kondisi sehari sebelum anjangsana.
Survey ke rumah Pak Tardjo (Selasa, 2 Februari 2016)
Gosi melakuknn survey ke rumah pak Tarjo dan Alhamdulillah dapat bertemu beliau. Ini ringkasan yang disampaikan Gosi ketika survey:
Pak Tarjo sekarang secara fisik sudah jauh berbeda dengan beliau semasa kita masih SMA...
"Kulo niku sakmeniko sampun 84 tahun...
Istri saya 81 tahun..."
Begitu yang beliau sampaikan.Tak terasa, sudah hampir 25 tahun tidak berjumpa dengan beliau. Walau demikian beliau masih senang bercerita...senang berbagi.
Diantara pembicaraan... Terselip nasihat dari beliau secara halus...
"Dadi wong jujur niku angel... Ning bakalan ditresnani kalih sik paring urip..."
Hal tersebut beliau sampaikan ketika bercerita tentang putranya, mas Tinon, alumni SMA 3 juga yang lulus tahun 1980. Pensiun dari dinas ketentaraan, sekarang bekerja di Astra Jakarta. Banyak hal yang bisa saya peroleh tadi... Sayang saya tidak membawa catatan.. ????
Ternyata beliau sangat gemar membaca...
"Saya senang membaca kisah yang ada bela diri nya..."
Terutama Musashi, beliau hingga khatam 7 kali membaca kisah tersebut,
"Sekarang saya lebih ke arah filosofi nya"
Beliau juga membaca Senopati Pamungkas, tulisan Arswendo... Buku filosofi jawa juga beliau sukai...
Demikianlah pak Tarjo, dan beliau nampak gembira ketika kami dari angkatan 88 akan berkunjung kepadanya hari Sabtu jam 10 besok...
Semoga bisa jumpa lagi dengan bapak dan kita bisa berbagi cerita lagi... ????
Mekaten laporan
Matur nuwun”
Survey ke rumah Ibu Dinarti (Kamis, 4 Februari 2016)
Pukul 09.00 Eko Cidoex meluncur ke rumah Ibu Dinarti di Jln wates km 9. Berikut laporan Eko Cidoex :
“ Sdh ktm bu dinar. Beliau skrg hidup dg 2 cucu dan seorg putri di rmhnya di Perum Bale Asri P12. Penuh rasa syukur meskipun dlm keterbatasan. Dan seneng sekali ada alumni padmanaba yg mau silaturahmi ke rmh beliau. Bsk sabtu beliau siap di rmh jk kita silaturahmi ke beliau. Hanya jm 7 biasanya mengantar cucunya sekolah PAUD. Ntar jm 10 njemput. Jd selain wkt2 itu bisa.
Td bu dinar sy antar ke rs wirosaban sekalian periksa ada trauma di kepala beliau, shg hrs sering kontrol. Beliau menyarankan tuk kunjungan guru juga ke pak levi yg kondisinya juga memprihatinkan.”
Mendengar Pak Hardjo Meninggal dan takziah (Kamis, 4 Februari 2016)
Inalillaahi wa inaillahi roji’un…setengah kaget mendengar menjelang jam 11, bahwa Pak Hardjo meninggal dunia di RS wirosaban. Pada hari itu juga kita sepakati untuk melakukan takziah sekaligus memberikan tali asih yang sebelumnya memang direncanakan. Kita juga mengirim bunga duka ke rumah beliau. Jam 16:00, Agtia, Hari suyuti, Lita dan Candra berangkat takziah ke rumah beliau dan bertemu dengan Istri Almarhum Pak Hardjo untuk menyerahkan uang duka amanah dari teman-teman sebesar 5 jt. Kita juga sempat menyolatkan beliau dan meihat wajah beliau sebelum dimakamkan besok harinya. Kita bertemu dengan Mbak Nana dan Mas Suryo (putera puteri almarhum). Disana ternyata rumah Almarhum Pak Hardjo dekat dengan rumah Pak Gito (guru Ekonomi). Kita sempat mengobrol dan Gosi mendapat informasi tambahan guru untuk anjangsana tahap berikutnya. Rest in peace Pak Harjo..semoga khusnul kotimah..
Rapat Dadakan Anjangsana tahap 1 (Kamis, 4 Februari 2016)
Sehabis takziah Pak Hardjo, disepakati kita akan rapat dadakan untuk persiapan anjangsana Sabtu tanggal 6 februari 2016. Karena yakin rapat akan berat, maka butuh persiapan makan di “sate Pak Jogo” untuk energi rapat malam harinya (thank you Agtia). Seperti biasa Lita selalu bersemangat menikmati makanan, dibantu Agtia, Hari dan Candra. Selesai makan Hari meminta ijin tidak bisa ikut rapat. Agtia, Lita, dan Candra menunggu Novita yang akan mengikuti rapat. Novita tiba, rapat dimulai dan disepakat I dalam rapat itu untuk anjangsana tahap 1 ini adalah Ke Pak Tarjo, Bu Dinarti dan Mas Saryanto. Dalam kunjungan ini kita juga memutuskan untuk memberikan kenang-kenangan berupa cincin emas, makanan kecil dan khusus Pak Tarjo diberikan Buku yang menurut Gosi kesenangan beliau (setelah melalui rapat virtual dengan Arif Farwan dan Gosi). Pertimbangan cincin emas, disamping sebagai kenangan dengan tulisan grafir Padz 46, juga bila dibutuhkan mudah diuangkan. Kita sepakat membagi rata uang tali asih dari dana yang terkumpul. Dan direncanakan besoknya, hari Jumat, 5 Februari 2016 jam 11:00 (Lita, Candra, Novita dan Agtia) dibelanjakan kebutuhan tersebut di Mall Ambarukamo Plaza untuk membelikan cincin emas, buku dan kue. Adapun total donasi untuk anjangsana tahap 1 ini adalah Rp. 29.000.000 dimana (Rp. 6.000.000 dari donasi anonym yang diamanahkan untuk guru melalui rekenig reuni, Rp.1.500.000 dari alokasi anggaran angjangsana reuni, dan Rp. 21.500.000 dari donasi sukarela teman-teman di luar rekening reuni). Disepakati anggarannya adalah 2,5 jt untuk 3 cincin emas, 1.422.000 jt untuk 3 paket kue kering, Rp. 128.000 utk 2 buah buku dan karangan bunga duka Rp. 450.000. Disepakati juga tali asih guru sebesar Rp. 6,5 jt per guru.
Belanja kebutuhan anjangsana (Jumat, 5 Februari 2016)
Pukul 11:00 Agtia, Lita, Candra dan Novita bertemu di amplaz di toko buku Gramdedia untuk membeli buku untuk Pak Tarjo. Ternyata buku yang diusulkan Gosi telah habis, sehingga kita mencari buku lain dengan pengarang yang sama yang semoga cocok dengan selera Pak Tarjo. Setelah itu kita menuju counter toko emas Semar untuk membeli cincin emas. Karena kebetulan hari itu Agtia cowok sendiri, dan beli cincin 3 pula, jadi seolah-olah hari itu Agtia langsung melamar 3 orang wanita sekaligus. Benar-benar “don juan SMA 3”…setelah mencoba berbagai cincin, akhirnya dapat juga yang cocok dengan budget dan membelikan tempatnya sekaligus dan digrafir dgn tulisan Padz46. Belanja dilanjutkan oleh para ibu-ibu (agtia melakukan ibadah sholat jumat) untuk membeli kue di Parsley. Belanja hari itu di akhiri dengan makan siang di Pizza Hut (usulan ananda Candra dan diamini semuanya). Seperti biasa Lita luar biasa dan sementara Agtia masih berusaha tetap diet tapi apa daya…..godaan terlalu besar (thank you Novita).
Anjangsana Guru Tahap 1 (Sabtu, 6 Februari 2016)
Pagi ini kita sepakat berkumpul jam 7.30 di lobby STIE YKPN. Berkumpullah Agtia, Arif, dan Candra, Dewi dan Wiratni (Lita masih mengajar, Dityo masih merokok di luar, dan Rosyid belum datang). Sambil menunggu kedatangan semuanya, di lobby STIE YKPN dilakukanlah persiapan dengan membagi uang santunan anjang sana untuk setiap guru. Uang itu telah dimasukkan ke dalam ampop reuni Padmanaba disertai surat pengantar (berisikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari kita semua), lengkap ditandatangani Ketua Alumni Arif Farwan yang telah datang pagi itu dari Jakarta. Lita selesai mengajar, Rosyid datang jam 8.00 kita mulai start dengan foto perdana di depan VW special yang akan mengantar kita hari itu. Rosyid menyediakan 2 buah VW tetapi rasanya cukup satu VW semua sudah masuk (Rosyid driver, Arif di depan, Agtia di antara wanita Lita, Candra, Dewi, dan Wiratni di belakang). Dityo, Ronny, Gosy, Eko Cidux masing masing menggunakan sepeda motor demi kelancaran perjalanan.
Anjangsana pertama Rumah Bapak Tarjo
Terletak di tengah kota, gang menuju rumah beliau tidak dapat dilewati mobil sehingga kami berjalan sekitar 500 meter ke rumah beliau yang terletak di ujung gang. Beliau telah menanti dan memberi salam semangat, terlihat pancar kebahagiaan dengan mempersilakan kita untuk masuk ke ruang tamu beliau. Team masih lengkap (Arif, Agtia, Rosyid, Gosi, Eko Cidux, Ronny, Dityo, Lita, Candra, Dewi, dan Wiratni). Ruang tamu terasa sempit sehingga kami melirik dan meminta ijin untuk dapat berbincang di ruang keluarga yang lebih leluasa. Suasana di ruang keluarga seperti di padepokan. Beliau duduk di kursi sementara kami anak-anaknya duduk di bawah mendengarkan cerita seru beliau. Terasa sama sekali tidak berjarak terutama diselingi dengan snack yang terhidang dan teh hangat yang menghangatkan pagi itu.
Beliau bercerita bahwa beliau menempatkan diri sebagai pendidik dan bukan sekedar guru. Itulah sebabnya beliau menegakkan disiplin disertai kasih sayang. Kita sampaikan permohonan maaf (sempat menyeletuk dari Ikok terutama) tetapi beliau dengan bijak mengatakan semua anakku tidak punya salah kalaupun salah telah kumaafkan sejak lama, bahkan beliau meminta maaf kepada kita semua.
Mengalirlah cerita disertai dengan petuah dan canda tawa (beliau 84 tahun didampingi ibu 81 tahun, memiliki 8 anak telah berkeluarga dan tidak tinggal bersama beliau lagi). Sebagaian petuah yang dapat kami sampaikan:
1. Jika jadi pemimpin saat membuat keputusan atau berbicara dengan bawahan, gunakanlah akal cerdas dan pertimbangan hati yang penuh kasih. Beliau mencontohkan ada anak didik yang sangat nakal (kencing di meja kelas dan suka membolos) suatu ketika sekolah tidak lagi dapat mentolerir kenakalan tersebut sehingga rapat diputuskan anak didik ini harus mengundurkan diri. Saat itu Pak Tarjo menyatakan keberatannya karena melihat anak ini sebenarnya baik, akhirnya rapat menyetujui untuk tidak mengeluarkan dengan jaminan apapun yang terjadi tanggung jawab Pak Tarjo. Dicapai kesepakatan dan Pak Tarjo setuju. Suatu ketika anak didik ini diajak naik gunung, di puncak Pak Tarjo berbicara dari hati ke hati, anak didik ini menangis menyesali kenakalan terhadap semua pihak terutama orang tuanya. Sekembali dari gunung, anak ini menjadi baik kepada orang tuanya. Pak Tarjo didatangi orang tuanya yang sangat heran terhadap perubahan anaknya. Pak Tarjo hanya bilang kasih sayang yang mengubah semuanya. Singkat cerita anak didik ini secara karir sangat maju karena pemberani (menjadi satu-satunya orang yang berani masuk ke daerah pertikaian suku Madura dan Kalimantan untuk mengevakuasi rakyat dan mendamaikan kedua belah pihak).
2. Ojo nyolong, beliau berkata lihat saya tidak kaya. Beberapa kali murid memberi saya uang selalu saya tolak, hanya satu yang tidak bisa saya tolak saat ada alumni memberi lemari kayu (terletak di ruang tengah dan masih terpelihara dengan baik) karena saya bingung tidak bisa mengembalikannya (ingat rumah beliau tidak dapat dilewati mobil jadi jika mau mengembalikan siapa yang akan mengangkat) sehingga akhirnya beliau bilang ke alumni tersebut saya terima sebagai titipanmu sehingga akan saya pelihara dengan baik.
3. Ojo tegel weruh wong sing kringkrangan. Jika berlebih atau ada yang jelas membutuhkan berikanlah rejeki kita, percaya saja bahwa rejeki itu akan digantikan oleh Tuhan secara berlipat.
4. Jika sudah berkeluarga jangan lupa selalu bertanya dan mengambil keputusan bersama pasangan dan anak-anak. Kamu akan damai dan tenteram menghadapi semua permasalahan dan tantangan karena doa dan restu keluarga menyertaimu.
Masih ingin rasanya bercengkerama tetapi mengingat padatnya jadwal, kita harus berpamitan. Kami serahkan buku serta uang dan terlihat Pak Tarjo menerima dengan terharu, setelah itu kami mohon pak Tarjo memasangkan cincin emas kepada ibu yang telah dengan setia mendampingi beliau. Berdua tertawa bahagia, kami sebagai anak-anaknya pun merasa kebahagian yang sama.
Perjalanan kami lanjutkan Ronny meminta maaf tidak dapat melanjutkan perjalanan karena ditelpon sekolah anaknya yang mengabarkan anaknya sakit. Gosi akan mendahului untuk mencari rumah pak Saryanto. Dityo dan Eko Cidux serta VW masih menemani.
Anjangsana kedua rumah Ibu Dinarti
Di perjalanan kami bercengkerama, Rosyid menceritakan bisnis VW nya dan mengajak kita suatu ketika ikut menikmati pagi hari menyusuri sawah mengendarai VW camat. Rosyid sangat paham jalan karena kerjaannya seringkali touring dan blusukan, tetapi rasanya masih kalah dengan Gosi ketika Gosi memberikan pertanda untuk rumah Bu Dinarti di jalan wates belok di depan markas FPI. Hanya Gosi yang tahu markas FPI, kita semua saling berpandangan. Akhirnya ditemukanlah tanda yang dimaksudkan dan di sebelah markas FPI terdapat pom bensin besar, karena kebesaran Gosilah yang menggunakan tanda markas FPI dan bukannya pom bensin.
Komplek rumah Bu Dinarti terletak di lereng gunung dengan pemandangan yang elok. Eko CIdux melaksankan pekerjaan survey dengan sepenuh hati (termasuk memindahkan portal jalan supaya VW bisa lewat). Akhirnya kami tiba di rumah Bu Dinarti yang kosong. Beliau belum datang dari menjemput cucunya. Kami gunakan kesempatan tersebut untuk berfoto ria.
Bu Dinarti datang bermasker dan berhelm lengkap mengendarai sepeda motor sendirian, tetap terlihat sangat lincah. Kami dipersilakan masuk dan diminta dianggap seperti runmah sendiri. Jelas kesempatan ini tidak kami sia-siakan apalagi Bu Dinarti membawa oleh-oleh yang cukup lengkap. Kami membantu untuk menghidangkan di ruang tamu. Es Camcao hijau, kacang hijau,, teh adalah minuman yang melegakan di siang hari ini plus kacang bawang gorengan ibu, pisang goreng, dan roti. Lengkap sudah menemani kelancaran kami bercerita.
Bu Dinarti ingat Wiratni (karena pintarnya), Lita (karena berkarakter agak ‘preman’), Gosi dan Dityo (karena tidak berubah bentuknya). Lebih banyak sendau gurau dan saling menceritakan kondisi masing-masing seperti layaknya anak yang pulang ke rumah ibunya (itulah gambaran keakraban kami). Beliau bercerita saat ini tinggal sendiri setelah suami meninggal tetapi anak-anaknya (2) telah berkeluarga sehingga saat ini beliau ikut membantu mengantar jemput cucu. Kesibukan beliau saat ini berjualan kacang bawang goreng. Beliau berpesan jangan berputus asa saat ditinggalkan pasangan, berwirausahalah dan berusahalah menjadi mandiri. Pintar pintarlah mengatur keuangan (beliau cerita saat mendapatkan uang pensiun dan uang sertifikasi guru digunakan untuk merenovasi rumah). Rumah beliau memang terlihat asri dan nyaman.
Saya tinggal sendiri dan sangat berbahagia dikunjungi, anak anakku masih ingat saya. Beliau menawarkan sate tongseng ataupun mie ayam, tawaran seorang ibu yang sangat menggoda tetapi Gosi telah menghubungi dan telah sampai di tempat pak Saryanto serta telah ditunggu.
Kami berpamitan, tidak lupa kami serahkan buah tangan (kue, uang, dan cincin). Kami meminta beliau untuk berfoto bersama. Beliau meminta kalo aku foto jangan lupa jari manisku difoto ya, ada cincin barunya (kemayu dan cerianya tidak lepas). Kami berpamitan. Dityo meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu guna menjemput anaknya. Kami melanjutkan perjalanan.
Anjangsana ketiga rumah Pak Saryanto
Rumah beliau di ujung hampir mendekati pantai Parangtritis (melewati gua selarong). Gosi sudah menunggu di tepi warung mie ayam untuk memberikan arahan rumah Pak Saryanto. Berada di sebuah desa yang berjarak 21 KM dari SMA Negeri 3.
Kami tiba dan Pak Saryanto duduk di kursi tamu. Beliau mempersilakan dan memperkenalkan dengan istri dan anaknya (berumur 5 tahun). Beliau bercerita pengobatan penyakit kankernya (2 kali operasi, 25 kali kemoterapi) tetapi masih berjuang untuk kesembuhannya. Beliau gigih berjuang dulu semasa jadi karyawan SMA Negeri 3 harus berangkat jam 4 pagi naik sepeda ke SMA Negeri 3 dan jika SMA Negeri 3 ada acara maka dipastikan beliau akan pulang larut malam. Beliau selalu berusaha pulang supaya anak dan istrinya tidak mengkhawatirkannya walaupun itu berarti kelelahan dan keberanian menembus malam harus ditempuh. Semoga kegigihan beliau tetap terjaga untuk melawan penyakit kankernya dan diberikan kesembuhan oleh Allah, amin.
Teman-teman mencari masjid untuk sholat sedangkan Lita, Wiratni dan Eko Cidux yang baru berhalangan tetap tinggal di rumah Pak Saryanto. Rejeki tidak kemana, beliau meminta saudaranya untuk memanjat pohon kelapa dan mengambil kelapa muda. Eko Cidux sangat cekatan bermain dengan parang dan membuka kelapa muda sementara Lita dan Wiratni cekatan mempersiapkan tikar di luar rumah dan menikmati kelapa muda tersebut. Teman-teman datang setelah sholat disambut kelapa muda serasa dahaga tertuntaskan (Gosi sudah tidak malu lagi langsung menyerbu dan meminum tidak memperdulikan sekitar, baru kali ini Gosi lepas kendali).
Kami berpamitan setelah menyerahkan kue, uang, dan cincin. Istrinya terlihat sangat berbahagia bercincinkan emas (sekilas di tubuhnya polos tanpa perhiasan duniawi apapun). Bapak Saryanto dan Ibu mengucapkan terima kasih sembari berpesan tetaplah berjiwa sosial dan meringankan yang berkesusahan. Beliau mendoakan kita semua diberikan limpahan rejeki dan kebahagiaan.
Penutupan
Waktu telah menunjukkan pukul 15.00 dan perut mulai protes keras. Kami mampir ke Rumah Pohon di dekat kampus ISI dengan lauk andalan ayam ingkung kampung. Suasana sejuk banyak pepohonan sepertinya melancarkan cerita seru kami tentang profesi Eko Cidux dan rencana reuni selanjutnya. Wiratni berbaik hati membayar makan siang ini (besok dia ultah dan yang lebih bahagia lagi ini dibayar dengan kartu kredit suaminya yang notabene alumni SMA Negeri 1).
Rosyid harus ke Jakarta jam 17.00 sementara waktu telah menunjukkan pukul 16.15 sehingga dia meminta ijin untuk berganti mobil dan nanti akan diantarkan sopir kembali ke STIE YKPN. Kami berganti mobil di bengkel VW Rosyid sehingga kami akhirnya melakukan tour de bengkel. Kekaguman dan kebahagiaan kami menyaksikan kreasi dan bisnis teman kami yang sangat berkembang. Teruslah maju dan terima kasih telah menjadi sopir seharian ini.
Hari ini kami hanya dapat mengucap syukur kepada Allah atas segala perkenan dan diberikannya kelancaran menjalankan misi mulia dari semua teman-teman Padmanaba 46. Banyak pelajaran kehidupan kami peroleh tetapi persahabatan dan rasa kekeluargaan yang tercipta telah melebihi segala rasa yang tidak dapat kami ungkapkan. Terima kasih Allah…....

Agenda